Prinsip Perhitungan Laba dalam Akuntansi Islam

Diantara tujuan dagang yang terpenting ialah meraih laba, yang merupakan cerminan pertumbuhan harta. Laba ini muncul dari proses pemutaran modal dan pengopersiannya dalam aksi-aksi dagang dan moneter. Islam sangat mendorong pendayagunaan harta/modal yang melarang menyimapnnya sehingga tidak habis sdimakan zakat, sehingga harta itu dapat merealisasikan peranannya dalam aktivitas ekonomi. Di dalam Islam, laba mempunyai pengertian khusus sebagaimana telah dijelaskan oleh ulama-ulama salaf dan khalaf. Dalam bahasa Arab, laba berarti pertumbuhan dalam dagang

Pengertian Laba dalam Konsep Islam

Dari pengertian laba secara bahasa atau menurut Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pendapat ulama-ulama fiqih dapat kita simpulkan bahwa laba ialah pertambahan pada modal pokok perdagangan atau dapat juga dikatakan sebagai tambahan nilai yang timbul karena barter atau ekpedisi dagang.

Aturan laba dalam konsep Islam.

  • Adanya harta (uang) yang dikhususkan untuk perdagangan
  • Mengoperasikan modal tersebut secara interaktif dengan
    unsur-unsur yang lain lain yang terkait untuk produksi,
    seperti usaha dan sumber-sumber alam.
  • Memposisikan harta sebagai obyek dalam pemutarannya
    karena adanya kemungkinan-kemungkinan pertmabahan atau
    pengurangan jumlahnya
  • Selamatnya modal pokok yang berati modal bisa
    dikembalikan.

Kesimpulan

Akuntansi konvensional yang berkembang hingga saat ini dan yang banyak dipakai para akuntan di dunia terbukti tidak sesuai dengan nilai-nilai islam yang bersumber pada Al Quran dan Al Hadis. Bahkan pada perkembangannya akuntansi konvensional yang bebas nilai ini, yang dilandasi pola berpikir egoistik, materialistik dan utilitarian tidak memiliki kemampuan untuk menjawab persoalan-persoalan akuntansi yang muncul dewasa ini.

Perkembangan dan perubahan bentuk industri tidak diikuti secara pararel oleh ilmu akuntansi konvensional, pencatatan hanya dilakukan pada aktiva berwujud saja, sedangkan industri pada masa kini besar dengan assets berupa aktiva tak berwujud seperti paten, goodwill, lisensi, hak cipta, internet, website, software dan sebagainya. Itulah salah satu keterbatasan akuntansi konvensional pada saat ini, tidak mampu menghitung assets yang diluar kalkulasi material.

Tidak demikian dengan Akuntansi Islam yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika dan berpedoman pada Al Quran dan Al Hadis. Dalam sistem tersebut, kegiatan identifikasi, klarifikasi, dan pelaporan dan mengambil keputusan ekonomi harus berdasarkan prinsip akad-akad syari’ah, yaitu tidak mengandung zhulum (Kezaliman), riba, maysir (judi), gharar (penipuan), barang yang haram dan membahayakan.

Dengan system yang dianut tersebut, Akuntansi Islam justru pada perkembangannya saat ini menunjukkan kinerja yang lebih baik dari sistem akuntansi lainnya.

Penulis : Amirah Ahmad Nahrawi Lc, M.Ec, M.Sy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>