KEUNGGULAN KONSEP PERBANKAN SYARIAH DALAM INTERMEDIASI SEKTOR RIIL

 

”Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri

melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.

Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),

sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba …………………..”

(QS. Al-Baqarah : 275)

 

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa perkembangan ekonomi Islam identik dengan berkembangnya lembaga keuangan syariah. Bank syariah sebagai motor utama lembaga keuangan telah menjadi lokomotif bagi berkembangnya teori dan praktik ekonomi Islam secara mendalam.

Perkembangan perbankan syariah merupakan fenomena yang menarik kalangan akademisi maupun praktisi dalam 20 tahun terakhir. Misalnya IMF juga telah melakukan kajian-kajian atas praktek perbankan syariah sebagai alternatif sistem keuangan internasional yang memberikan peluang dalam upaya penyempurnaan sistem keuangan internasional yang belakangan dirasakan banyak sekali mengalami goncangan dan ketidakstabilan yang menyebabkan krisis dan keterpurukan ekonomi akibat lebih dominannya sektor finansial dibanding sektor riil dalam hubungan perekonomian dunia.

Beberapa kajian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan perdagangan uang dan derivasinya tumbuh kurang lebih 800 kali lipat dibanding laju pertumbuhan sektor riil dan semakin tidak terintegrasinya kegiatan sektor riil dengan sektor moneter sehingga timbul berbagai distorsi dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi dunia karena pengaruh yang sangat kuat dari perilaku ekonomi yang spekulatif dan tidak berbasis pada kondisi riil potensi ekonomi yang ada[1].

Salah satu kritik Islam terhadap praktik perbankan konvensional adalah dilanggarnya prinsip ’al-kharaj bi al-dhaman’ yaitu hasil usaha muncul bersama biaya, dan prinsip ’al-ghunmu bi al-gurmi’ yaitu keuntungan timbul karena menanggung resiko. Dalam pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga deposito, tabungan, dan giro pada bank konvensional memberikan pinjaman dengan mensyaratkan pembayaran bunga yang besarnya tetap dan ditentukan terlebih dahulu diawal transaksi (fixed and predetermined rate). Pada hal nasabah yang mendapatakan pinjaman itu tidak mendapatkan keuntungan yang fixed and predetermined rate juga, karena dalam bisnis selalu ada kemungkinan rugi, impas, atau untung yang besarnya tidak dapat diketahui dari awal. Jadi, mengenakan tingkat bunga untuk suatu pinjaman merupakan tindakan yang memastikan sesuatu yang tidak pasti, karena itu praktik seperti ini termasuk kedalam transaksi yang diharamkan.

Bila kita setback kebelakang masa pada waktu terjadi krisis, banyak bank konvensional yang berguguran tidak kuat menghadapi hantaman krisis yang mendera Republik tercinta ini, masih terasa riak gelombang krisis sampai kini, bahkan 650 triliun uang rakyat digelontorkan dalam bentuk dana rekap untuk perbankan nasional dan melalui BPPN, pemerintah menghapus bukukan kredit perbankan nasional, tapi upaya yang telah dilakukan pemerintah tidak membuat perekonomian nasional menjadi sehat dengan membersihkan bank-bank dari sisi akuntansi, perekonomian nasional masih tetap membebani pemerintah. Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdullah bahkan mengulas penyaluran kredit pada semester I tahun 2006 hanya mencapai 2,4 persen, artinya perbankan nasional masih memarkir dana deposannya di SBI posisi Oktober 2006 sebesar 205 triliun, perbankan nasional masih saja menjadi beban nasional karena pemerintah melalui Bank Indonesia harus membayar bunga SBI yang masih tinggi saat ini. Namun demikian apakah bank syariah sebagai solusi atas kondisi perbankan nasional, sementara bila kita lihat perkembangan asset menjelang tutup tahun 2006 seperti pada kinerja perbankan syariah triwulan ketiga tahun 2006 masih dibawah 2 persen tepatnya hanya 1.51 persen bila dibandingkan dengan total asset perbankan nasional yang mencapai 1.551,40 triliun per Agustus 2006.

[1] Prinsip Dasar Operasional Bank Syariah, Paper Ahmad Baraba, disampaikan dalam acara Dialog Ekonomi Syari’ah yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Perbankan Syariah (PSPS) STIE “SBI” Yogyakarta, tanggal 25 Agustus 1997.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>